Yogyakarta — Di balik angka realisasi investasi yang mengesankan, ada satu pertanyaan yang sering luput dari perhatian pelaku usaha: apakah data investasi itu benar-benar tercatat dengan baik? Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah paparan Dr. Didi Nuryadin, S.E., M.Si., dosen Ekonomi Pembangunan sekaligus Koordinator Program Studi S2 Ilmu Ekonomi FEB UPN "Veteran" Yogyakarta, dalam kegiatan Bimbingan Teknis Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) yang diselenggarakan oleh DPMPTSP Kota Yogyakarta, Selasa (7/4/2026).
Kegiatan bertema "Kewajiban Penyampaian LKPM bagi Pelaku Usaha di Kota Yogyakarta" ini dihadiri oleh para pelaku usaha yang beroperasi di wilayah Kota Yogyakarta, dengan tujuan memperkuat kesadaran dan kepatuhan dalam pelaporan investasi secara berkala.
Kota Kecil, Magnet Investasi Besar
Dr. Didi Nuryadin membuka paparannya dengan sebuah fakta yang menarik: Kota Yogyakarta hanya memiliki luas 32,5 km², namun berhasil merealisasikan investasi senilai Rp2,19 triliun pada 2025 — melampaui 161,74% dari target yang ditetapkan. Sebuah lompatan luar biasa dari angka Rp867 miliar di tahun sebelumnya, atau naik 152% hanya dalam satu tahun.
"Ini bukan tren biasa," tegasnya. Kota Yogyakarta membuktikan bahwa kualitas ekosistem bisnis jauh lebih menentukan dibanding luas wilayah. IPM tertinggi di DIY sebesar 89,10, pasar yang tidak pernah sepi karena arus mahasiswa dan wisatawan, serta layanan perizinan yang kian cepat dan transparan menjadi tiga keunggulan kompetitif yang terus menarik minat investor.
Investasi yang Bekerja untuk Warga
Bukan sekadar angka realisasi, Dr. Didi Nuryadin juga memaparkan bukti bahwa investasi yang masuk selama ini telah memberikan dampak nyata. Tingkat kemiskinan Kota Yogyakarta turun konsisten dari 7,27% pada 2020 menjadi 6,14% pada 2025, jauh di bawah rata-rata DIY yang masih berada di angka 10,23%. Pertumbuhan ekonomi pun bertahan di kisaran 5% pasca pandemi.
Namun ia juga mengingatkan adanya risiko yang tidak boleh diabaikan. Struktur investasi masih terkonsentrasi pada sektor hotel dan restoran yang menyumbang 44,77% dari total investasi, sementara investasi asing didominasi Malaysia hingga lebih dari 80%. "Konsentrasi seperti ini menciptakan kerentanan yang perlu diwaspadai," ujarnya.
Efek Berlapis dari Satu Investasi
Melalui pendekatan analisis input-output, Dr. Didi Nuryadin memperlihatkan bagaimana investasi pada satu sektor mampu menciptakan efek berganda yang meluas ke sektor lain. Sebagai ilustrasi, investasi sebesar Rp1 miliar pada sektor penyediaan akomodasi — sektor dengan keterkaitan ke belakang tertinggi — terbukti mampu mendorong total output perekonomian hingga Rp1,48 miliar, dengan dampak yang menyebar ke sektor makan minum, logistik, dan jasa penunjang lainnya.
Temuan ini menegaskan bahwa pilihan sektor investasi bukanlah urusan sederhana. Sektor dengan keterkaitan tinggi berperan sebagai titik ungkit yang dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi secara lebih luas dan sistemik.
LKPM: Lebih dari Sekadar Kewajiban Administratif
Puncak dari seluruh paparan mengerucut pada satu pesan yang disampaikan Dr. Didi Nuryadin kepada para peserta: pelaporan LKPM yang akurat dan tepat waktu bukan sekadar urusan kepatuhan, melainkan kontribusi nyata terhadap pembangunan kota.
Ia menjelaskan bahwa data LKPM adalah fondasi bagi pemerintah untuk mendeteksi sektor mana yang tumbuh, mana yang stagnan, dan di mana dukungan kebijakan paling dibutuhkan. Tanpa data yang lengkap, kebijakan investasi menjadi tidak tepat sasaran — dan pada akhirnya, investor sendiri yang dirugikan karena tidak mendapatkan dukungan yang relevan.
Kota Yogyakarta menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,06–6,03% pada 2026. Target itu, sebagaimana ditegaskan Dr. Didi Nuryadin, hanya bisa dicapai jika setiap pelaku usaha yang hadir dalam forum tersebut turut berkontribusi melalui satu hal sederhana namun krusial: melaporkan LKPM secara tertib.
Sinergi Akademisi dan Pemerintah Daerah
Keterlibatan FEB UPN "Veteran" Yogyakarta dalam Bimtek LKPM ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung penguatan tata kelola investasi daerah berbasis riset dan data. Kolaborasi antara akademisi dan DPMPTSP Kota Yogyakarta diharapkan terus berlanjut, menghadirkan perspektif ilmiah yang membantu pelaku usaha dan pemerintah mengambil keputusan yang lebih tepat dan terukur demi kemajuan ekonomi Kota Yogyakarta.