Gunungkidul — Suasana Temu Bisnis 2025 yang digelar Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Gunungkidul terasa berbeda. Di antara para pembicara yang hadir, Dr. Didi Nuryadin — dosen Ekonomi Pembangunan sekaligus Koordinator Program Studi S2 Ilmu Ekonomi FEB UPN "Veteran" Yogyakarta — tampil membawa sesuatu yang jarang ada di forum bisnis: data dan analisis akademis yang tajam, namun tetap membumi.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (16/10/2025) ini mengusung tema "Peran Investasi dalam Mendorong Ekonomi Gunungkidul yang Berkelanjutan: Investasi Tumbuh, Ekonomi Maju", dan dihadiri oleh pelaku usaha, perwakilan pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan yang menaruh perhatian pada masa depan investasi di Bumi Handayani.
Ekonomi yang Tumbuh, Peluang yang Menunggu
Dalam paparannya, Dr. Didi Nuryadin membedah kondisi perekonomian Gunungkidul secara menyeluruh. Ia memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah ini terbilang tangguh — setelah sempat terkontraksi akibat pandemi, laju pertumbuhan kembali ke kisaran 5% dan terus bertahan hingga 2023. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pun konsisten rendah, hanya di angka 2,08–2,2%, jauh di bawah rata-rata nasional.
Struktur PDRB Gunungkidul masih didominasi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (24,02%), namun sektor jasa, perdagangan, serta informasi dan komunikasi terus menguat — sebuah sinyal bahwa transformasi ekonomi daerah ini sedang berjalan.
Peta Investasi: Di Mana Peluangnya?
Dari sisi investasi, realisasi pada Triwulan II 2025 mencapai Rp31,77 miliar, dengan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi hingga 97%. Sektor jasa, pertanian, dan perdagangan menjadi magnet utama bagi investor domestik, sementara sektor akomodasi, industri pengolahan, dan perumahan dinilai masih menyimpan potensi besar yang belum tergarap maksimal.
Dr. Didi Nuryadin juga menghadirkan analisis input-output untuk menunjukkan bagaimana investasi di satu sektor dapat menciptakan efek berganda bagi sektor lainnya — sebuah pendekatan yang memberikan gambaran lebih utuh kepada para pelaku usaha tentang dampak nyata dari setiap keputusan investasi.
Investasi Nyata yang Sudah Berjalan
Paparan tidak hanya berhenti pada angka dan proyeksi. Dr. Didi Nuryadin turut menyoroti dua contoh konkret investasi yang sedang bergerak di Gunungkidul. Pertama, Pabrik Woneel — industri sarung tangan ekspor yang telah memproduksi hingga 15.000 pasang per hari untuk merek internasional dan menyerap hampir 2.000 tenaga kerja lokal. Kedua, pembangunan Lapangan Geosains UPN "Veteran" Yogyakarta di wilayah utara Gunungkidul di atas tanah Sultan Ground, yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026 dan diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi kawasan.
Sinergi Kampus dan Daerah
Kehadiran Dr. Didi Nuryadin di forum strategis ini bukan sekadar formalitas akademis. Ini adalah wujud nyata dari peran perguruan tinggi dalam mendorong pembangunan daerah berbasis riset dan data. Kolaborasi antara UPN "Veteran" Yogyakarta dan pemerintah Kabupaten Gunungkidul diharapkan terus menguat — menghasilkan rekomendasi kebijakan yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Gunungkidul bukan lagi sekadar daerah dengan pantai indah dan bentang karst yang memukau. Dengan peta investasi yang kian jelas, daerah ini tengah bersiap menjadi destinasi investasi yang serius — dan akademisi siap menjadi mitra strategisnya.